Search

Kamis, 20 Februari 2014

Contoh Kepemimpinan Tokoh


170110120139 - Universitas Padjajaran
Bangsawan Demokratis


Dilahirkan di Dalem Pakuningratan kampung Sompilan Ngasem pada hari Sabtu Pahing tanggal 12 April 1912 atau menurut tarikh Jawa Islam pada tanggal Rabingulakir tahun Jimakir 1842 dengan nama Dorodjatun. Ayahnya adalah Gusti Pangeran Haryo Puruboyo, yang kemudian hari ketika Dorodjatun berusia 3 tahun Beliau diangkat menjadi putera mahkota (calon raja) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Raja Kerajaan Mataram.
            Sedangkan ibunya bernama Raden Ajeng Kustilah, puteri Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Raden Ayu Adipati Anom. Sejak usia 4 tahun Dorodjatun sudah hidup terpisah dari keluarganya, dititipkan pada keluarga Mulder seorang Belanda yang tinggal di Gondokusuman untuk mendapat pendidikan yang penuh disiplin dan gaya hidup yang sederhana sekalipun ia putra seorang raja. Dalam keluarga Mulder itu Dorodjatun diberi nama panggilan Henkie yang diambil dari nama Pangeran Hendrik, suami Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda. Henkie mulai bersekolah di taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer yang terletak di Bintaran Kidul. Pada usia 6 tahun Dorodjatun masuk sekolah dasar Eerste Europese Lagere School dan tamat pada tahun 1925. Kemudian Dorodjatun melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan kemudian di Bandung. Pada tahun 1931 ia berangkat ke Belanda untuk kuliah di Rijkuniversiteit Leiden, mengambil jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi. Ia kembali ke Indonesia tahun 1939.
            Setahun kemudian, tepatnya pada hari Senin Pon tanggal 18 Maret 1940 atau tanggal 8 bulan Sapar tahun Jawa Dal 1871, Dorodjatun dinobatkan sebagai raja Yogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX. Arti gelar tersebut ialah bahwa sultanlah penguasa yang sah dunia yang fana ini, dia juga Senopati Ing Ngalogo yang berarti mempunyai kekuasaan untuk menentukan perdamaian atau peperangan dan bahwa dia pulalah panglima tertinggi angkatan perang pada saat terjadi peperangan. Sultan juga Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo atau penata agama yang pemurah, sebab dia diakui sebagai Kalifatullah, pengganti Muhammad Rasul Allah di Kesultanan Yogyakarta.
            Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan contoh bangsawan yang demokratis. Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta mengalami banyak perubahan di bawah pimpinannya. Pendidikan Barat yang dijalaninya sejak usia 4 tahun membuat HB IX menemukan banyak alternatif budaya untuk menyelenggarakan Keraton Yogyakarta di kemudian hari. Berbagai tradisi keraton yang kurang menguntungkan dihapusnya dan mencari alternatif baru yang lebih bermakna. Meski begitu bukan berarti ia menghilangkan substansi sendiri sejauh itu perlu dipertahankan. Bahkan wawasan budayanya yang luas mempu menemukan terobosan baru untuk memulihkan kejayaan kerajaan Yogyakarta. Bila dalam masa kejayaan Raja Kerajaan Mataram pernah berhasil mengembangkan konsep politik keagungbinataraan yaitu bahwa kekuasaan raja adalah agung binathara bahu dhenda nyakrawati, berbudi bawa leksana ambeg adil para marta (besar laksana kekuasaan dewa, pemeliharaan hukum dan penguasa dunia, meluap budi luhur mulianya, dan bersikap adil terhadap sesama), maka HB IX dengan wawasan barunya menunjukkan bahwa raja bukan lagi gung binathara, melainkan demokratis. Raja berprinsip kedaulatan rakyat tetapi tetap berbudi bawa leksana. Di samping itu HB IX juga memiliki paham kebangsaan yang tinggi. Dalam pidato penobatannya sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX ada dua hal penting yang menunjukkan sikap tersebut. Pertama, adalah kalimat yang berbunyi: "Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa." Kedua, adalah ucapannya yang berisi janji perjuangan: "Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya."  Wawasan kebangsaan HB IX juga terlihat dari sikap tegasnya yang mendukung Republik Indonesia dengan sangat konsekuen. Segera setelah Proklamasi RI ia mengirimkan amanat kepada Presiden RI yang menyatakan keinginan bahwa kerajaan Yogyakarta akan mendukung pemerintahan RI dan menyumbang sekitar 6 juta Gulden kepada pemerintahan Indonesia kala itu. Ketika Jakarta sebagai ibukota RI mengalami situasi gawat, HB IX tidak keberatan ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta. Begitu juga ketika ibukota RI diduduki musuh, ia bukan saja tidak mau menerima bujukan Belanda untuk berpihak pada mereka, namun juga mengambil inisatif yang sebenarnya dapat membahayakan dirinya, termasuk mengijinkan para gerilyawan bersembunyi di kompleks keraton pada Serangan Umum 1 Maret 1949. Jelaslah bahwa ia seorang raja yang republiken. Setelah bergabung dengan RI, HB IX terjun dalam dunia politik nasional. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di usia 76 tahun pada 2 Oktober 1988 di Amerika Serikat.

Penggagas Serangan
Umum
            Berdasarkan dokumen-dokumen yang kini dimiliki Arsip Nasional RI semakin jelas, penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sebuah dokumen hasil wawancara mendiang Raja Yogyakarta itu dengan Radio BBC London tahun 1980-an secara jelas mengatakan hal itu. Dari wawancara itu juga terungkap, peran mantan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Presiden Soeharto yang ketika itu masih berpangkat Letnan Kolonel hanya sebatas sebagai pelaksana saja. "Yang pasti, penggagas Serangan Oemoem itu adalah mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan bukan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1998) seperti selama ini diyakini pemerintah Orde Baru," kata Kepala Arsip Nasional RI Dr Muhklis Paeni, dalam konferensi pers di gedung Arsip Nasional RI Jakarta, Jumat (10/3) petang. Menurut Muhklis, gagasan mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX mau mengadakan SU 1 Maret 1949 itu karena dilatarbelakangi oleh kepentingan nasional yakni menunjukkan kepada dunia internasional bahwa "denyut nadi" Republik Indonesia masih hidup. Ide itu, jelas Muhklis, lalu didiskusikan dengan Panglima Besar Jenderal Panglima Besar TKR/TNI Sudirman dan akhirnya disetujui. Atas saran Jenderal Panglima Besar TKR/TNI Sudirman, Sri Sultan lalu menghubungi Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1998) Soeharto soal ide itu dan membicarakan pengoperasiannya.
Sri Sultan HB IX juga telah beberapa kali menduduki kursi-kursi penting pemerintahan Indonesia seperti Wakil Perdana Menteri Indonesia, Menteri dan juga Wakil Presiden Indonesia pada zaman Orde Baru.

Sumber:
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/276-bangsawan-yang-demokratis
Copyright © tokohindonesia.com



ANALISIS GAYA KEPEMIMPINAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX

            Peran pemimpin dalam suatu organisasi adalah hal yang sangat krusial. Tanpa adanya pemimpin maka suatu organisasi tidak akan berjalan baik dalam pencapaian tujuan organisasi. Esensi pemimpin itu sendiri adalah mempengaruhi tindakan-tindakan orang lain, kualitas esensial pemimpin adalah mereka yakin sesuatu mesti dilakukan dan meyakinkan orang lain utuk membantunya mewujudkan hal tersebut ( Nigro & Nigro, 1989:279). Harold Koontz mengutarakan bahwa kepemimpinan muncul dalam ilmu sosial dengan tiga arti utama :
1.      Atribut suatu posisi
2.      Sifat seseorang
3.      Kategori perilaku
Legitimasi posisi seorang pemimpin dapat didasarkan pada sumber kekuasaan yang didefinisikan dalam dimensi :
1.      Legal Power (kekuasaan legal). Didasarkan pada otoritas rasional legal yang diperoleh karena menduduki suatu suatu posisi formal dalam hirarki organisasi
2.      Personal Power (kekuasaan pribadi). Daya tarik dari pribadi seseorang yang dapat menimbulkan kesadaran pengikut untuk menerima, mengakui , dan mengikutinya karena dirasaka baik atau benar. Kekuasaan bersumber pada, tradisi, kharisma, dan keahlian.
            Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah sesosok pemimpin yang memiliki semua hal tersebut. Bisa dikatakan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono adalah teladan pemimpin yang ideal untuk Negara Indonesia sekarang ini yang terjebak dalam “Demokrasi” sebagai sutu proses politik. Posisi beliau sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta adalah bukti bahwa sumber kekuasaan yang beliau dapatkan berdasarkan garis keturunan atau tradisioanl (Max Weber). Namun, dengan catatan beliau menjabat sebagai Menteri Negara, Menteri Koordinator Keamanan Dalam Negeri, Menteri Pertahanan sampai Wakil Perdana Menteri pada zaman orde lama, hingga diberika kepercayaan yang sama ketika Presiden Suharto meduduki jabatan sebagai Presiden RI ke-2 adalah suatu bukti bahwa beliau memiliki standar yang sangat memadai untuk mendapatkan kekuasaan di skala nasional bukan hanya karena garis keturunan semata tapi karena kecakapan atau  keahlian, kharisma yang beliau miliki hingga dinilai pantas sebagai seorang pemimpin. Pada saat itu kita ketahui bersama bahwa Presiden Sukarno dan Presiden Suharto memiliki gaya kepemimpinan yang sangat berbeda namun, kepercayaan kepada HB IX untuk menjabat di kursi pemerintahan beberapa kali hingga menjadi Wakil Presiden RI zaman orde baru pada tahun 1973-1978  menunjukan bahwa eksistensi dan kapabilitas beliau sebagai salah satu pemimpin bangsa tidak bisa diragukan.
            Menurut teori kepemimpinan Edgar H. Schein, Sri Sultan HB IX termasuk dalam gaya kepemimpinan 9.9. Memiliki orientasi terhadap hubungan manusia yang tinggi dan juga orientasi tugas yang tinggi. Kenapa bisa demikian? Bisa dilihat dari beberapa pengorbanan, pencapaian, dan keputusan yang beliau ambil untuk bangsa dan negaranya ini. Kepribadian Sri sultan HB IX terkenal sangat ramah, bersahaja, dan juga tenang. Beliau sangat dihormati oleh rakyatnya di DIY dan seluruh penjuru Indonesia. Beliau sangat jarang menggunakan pengawal atau body guard ketika mengemban tugas baik di dalam kota maupun di luar kota. Kemampuan beliau dalam persuasi rakyat dan pejabat Kesultanan Yogyakarta untuk menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia pada awal kemerdekaan walaupun pada dasarnya Kesultanan Yogyakarta telah memiliki otonomi daerah sendiri dan mendapatkan pengakuan dari Pemetintahan Hindia Belanda dan juga Jepang serta menyumbangkan 6 juta gulden kepada pemerintah yang baru merdeka tanpa mengharapkan balasan dari pemerintah Indonesia adalah suatu bukti konkret atas penilaian saya terhadap gaya kepemimpinan Sri Sultan HB IX.
            Belum pernah ada pernyataan akan keburukan pribadi Sri Sultan HB IX ketika beliau memimpin Kesultanan Yogyakarta maupun bangsa Indonesia. Kontribusi dalam pembangunan ekonomi, politik, pendidikan dan juga sosial di Indonesia merupakan pengabdian beliau dalam mengemban tugas pencapaian tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.  Pada masa usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Belanda melancarkan aksi agresi militer yang menyebabkan lumpuhnya roda ekonomi bangsa dan terjadi kelaparan di beberapa wilayah. Sri Sultan HB IX langsung turun ke jalan membantu meringankan penderitaan rakyat dengan mendirikan pemukiman-pemukiman di dalam wilayah keraton  yang saat itu sangat sakral. Serta memberikan bantuan langsung kepada pemerintah Indonesia berupa uang untuk menutupi perekonomian pemerintah yang lumpuh. Dalam usaha memajukan pendidikan bangsa beliau mendirika Sekolah Rakyat (SR) serta Sekolah Menengah Tinggi (SMT) untuk rakyat di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, serta DIY sendiri hingga menjadi salah satu founding father Universitas Gadjah Mada yang akhirnya menjadi salah satu pusat pendidikan di Indonesia.
            Orientasi hubungan manusia yang tinggi ditunjukan kebiasaan Sri Sultan HB IX mengunjungi rakyatnya baik di dalam pasar untuk mengontrol harga pasar dan perkembangan sektor perdagangan, di desa-desa untuk melihat kesejahteraan hidup, dan membebaskan untuk mengutarakan pendapat rakyat di alun-alun Yogyakarta. Sultan juga melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokasi saluran irigasi Selokan Mataram sebagai dalih kepada pemerintahan Jepang. Keputusan yang beliau ambil sangat berani dan bahkan menguntungkan untuk pemerintahan Kesultanan Yogyakarta dan juga rakyatnya hingga sekarang. Beliau selalu bersedia mendengar keluhan dan masukan dari bawahannya dan juga dari demonstran saat beliau menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-2. Hingga suatu ketika para mahasiswa yang melakukan demonstrasi terkenal anarkis sangat tenang ketika melewati kantor Wapres RI. Penghormatan yang para demonstran berikan tersebut adalah bukti bahwa bagaimana mereka segan akan kepemimpinan Sri Sultan HB IX walaupun saat itu pemerintah Indonesia sedang dihujat oleh rakyatnya.
            Pengabdian Sri Sultan yang tanpa pamrih tersebut tercermin dari kebijakan-kebijakan yang beliau ambil untuk negara. Merelakan kekayaannya dan wilayah teritorial pribadinya untuk bangsa Indonesia. Mengemban tugas-tugas negara dari yang berskala regional, nasional hingga internasioanal sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam PBB. Kemampuan diplomasi Sri Sultan HB IX dalam ditandatanganinya perjajian damai setelah Agresi Militer Indonesia adalah suatu kontribusi yang besar untuk bagsa dan negara Indonesia. Sebelum itu beliau juga berdiplomasi selama 4 tahun dengan pemerintahan Hindia Belanda yang saat itu diwakili oleh Dr. Lucien adams untuk mendapatkan hak atau pengkuan teritorial akan wilayah Kesultanan Yogyakarta sebelum Indonesia merdeka mendapatkan hasil yang tidak sia-sia. Sri Sultan HB IX beberapa tahun terakhir terkenal dengan pengagas serangan umum1 Maret 1949 yang sebelumnya dikenal bahwa Presiden Suharto lah pengagas serangan tersebut namun pengakuan bebrerapa pihak terlibat dan dokumen BBC internasional menyebutkan bahwa penggagas dan penagtur strategi adalah Sri Sultan HB IX beserta serangan-serangan gerilyawan terhadap pemerintah kolonial saat itu. Namun, beliau tidak pernah membuka hal tersebut kepada publik. Beliau lebih memilih diam dan tetap melanjutkan pengabdiannya terhadap bangsa tanpa harus mendapatkan pengakuan atas usaha dan perjuangannya dari zaman Indonesia belum merdeka hingga Indonesia merdeka dan telah berganti zaman kepemimpinan. Konsistensi beliau adalah hal yang sangat luar biasa. Keputusan beliau untuk tidak naik kembali sebagai Wakil Presiden RI sangat disayangkan namun juga sangat dihargai. Karena itu mengindikasikan bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang bijak dalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarkan materi belaka.
            Gaya kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono ditularkan dalam buku yang berjudul “Inspiring Prophetic Leader” yang diterbitkan oleh Kesultanan Yogyakarta mengulas tentang gaya kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang bisa kita jadikan teladan pemimpin bangsa ini yang sudah mulai kehilangan arah akan perjuangan bangsa dan “haus” akan sosok pemimpin yang ideal.  
           

Sumber :
Drs. Ulbert Silalahi, M.A .1989.Studi Tentang Ilmu Administrasi. Bandung : Sinar Baru Algesindo
Felix A. Nigro & Llyod G. Nigro. 1989. Adminitrasi Publik Modern Terjemahan. Yogyakarta : Palmall

Senin, 14 Oktober 2013

TEORI ORGANISASI

TEORI ORGANISASI

Ciri-ciri, Unsur dan Teori Organisasi
           
            Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat. Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut:

a.Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa : “ Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih” (I define organization as a system of cooperatives of two more persons)

b.James D. Mooney mengatakan bahwa : “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose” (Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama)

c.Menurut Dimock, organisasi adalah : “Organization is the systematic bringing together of interdependent part to form a unified whole through which authority, coordination and control may be exercised to achive a given purpose” (organisasi adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian-bagian yang saling ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan).

Dari beberapa pengertian organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap organisasi harus memiliki tiga unsur dasar, yaitu :
a.Orang-orang (sekumpulan orang)
b.Kerjasama
c.Tujuan yang ingin dicapai

Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.

1. Ciri-ciri Organisasi
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
b.Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
c.Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain,
d.Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
e.Adanya tujuan yang ingin dicapai.

2 Unsur-Unsur Organisasi

Unsur-unsur dari organisasi meliputi:
1. Manusia (Man).
2. Kerjasama.
3. Tujuan Bersama.
4. Peralatan (Equipment).
5. Lingkungan.
6. Kekayaan alam.
7. Kerangka/Konstruksi mental
Secara garis besar organisasi mempunyai tiga unsur yaitu :
1. Manusia.
2. Kerjasama.
3. Tujuan bersama-sama.

Dari ketiga unsur tersebut saling terkait dan mempunyai satu kesatuan. dari berbagai macam teori organisasi yang di kemukakan oleh para ahli tidak ada satu pun yang memiliki kebenaran mutlak. dan antara teori organisasi yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
Unsur-unsur Organisasi
Setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut :
• Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama.
• Proses kerja sama sedikitnya antara dua orang
• Jelas tugas dan kedudukannya masing-masing
• Ada tujuan tertentu
Secara ringkas unsur-unsur organisasi yang paling dasar adalah :
- Harus ada wadah atau tempatnya untuk bekerja sama.
- Harus ada orang-orang yang bekerja sama.
- Kedudukan dan tugas masing-masing orang harus jelas.
- Harus ada tujuan bersama yang mau dicapai.

3. Teori Organisasi

Teori organisasi adalah studi tentang bagaimana organisasi menjalankan fungsinya dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya ataupun masyarakat di lingkup kerja mereka.
Teori organisasi adalah suatu konsefsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi agar lebih berhasil dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Masalah adalah segala sesuatu yang segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kepentingan organisasi yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan.
Ada banyak masalah yang dihadapi organisasi (kompleks) dan memerlukan pemecahan tersendiri sehingga muncul berbagai kajian untuk lebih memahami efektivitas organisasi Teori organisasi Muncul pada abad 19 dilatarbelakangi oleh Revolusi Inggris dan lahirnya perusahaan raksasa di Amerika Serikat.

Evolusi Teori Organisasi Terdiri atas :

-Teori Klasik Teori tipe organisasi (Birokrasi) oleh Max Weber (Sosiolog Jerman Teori manajemen Ilmiah oleh Fredrick Winslow Taylor (AmerikaTeori ) administrative (prinsif-prinsif organisasi) oleh Henry Fayol (Prancis).
-Teori Organisasi dan Manajemen Neo Klasik
-Teori modern
-Teori organisasi dan manajemen Jepang

Lima Golongan Teori Organisasi Modern (Prajudi Atmosudirdjo):
-Teori organisasi klasik;
-Teori organisasi hubungan antar manusia
-Teori proses;
-Teori prilaku;
-Teori Sistema.

Empat Macam Teori Organisasi (Amitai Etzioni) :
-Teori klasik (Scientific management);
-Aliran hubungan manusia (human relations);
-Sistem pendekatan struktural;
-Teori pembuatan keputusan

Sembilan Macam Teori Organisasi (Wursanto, 2003:260-274)
-Teori organisasi klasik;
-Teori organisasi birokrasi;
-Teori organisasi human relations;
-Teori organisasi perilaku;
-Teori organisasi proses;
-Teori organisasi kepemimpinan;
-Teori organisasi fungsi;
-Teori organisasi pembuatan keputusan;
-Teori organisasi kontingensi

Delapan Pendekatan Teori Organisasi (Harold Koontz dan Cyrill o’Donnell)
-Pendekatan pengalaman atau kasus (the empirical, or case approach);
-Pendekatan prilaku antar pribadi (the interpersonal behavior approach);
-Pendekatan perilaku kelompok (the group behavior approach);
-Pendekatan kerjasama sistem social (the cooperative social system approach);
-Pendekatan sistem teknik sosial (the sociotechnical system approach);
-Pendekatan teori keputusan (the decision theory-center approach);
-Pendekatan pusat komunikasi (the communication-center approach);
-Pendekatan operasi (the operational approach).

Teori Organisasi :

1. Teori Organisasi Klasik (Teori Tradisonal)
a. Teori Birokrasi.
b. Teori Administrasi.
c. Manajemen Ilmiah.


2. Teori Neoklasik (Teori hubungan antar manusiawi)
Menekankan pentingnya aspek psikologis dan sosial karyawan.

3. Teori Organisasi Modern
Semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan dan saling ketergantungan.
Pengertian Manajemen
Istilah manajemen berasal dari kata management (Bahasa Inggris), berasal dari kata “to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara mengatur, membimbing dan memimpin semua orang yang menjadi bawahannya agar usaha yang sedang dikerjakan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen, diantaranya:
1. Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “Manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain” (Dayat, n.d,p.6).
2. George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan definisi: “Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya” (Dayat, n.d,p.6).
3. Ensiclopedia of The Social Sciences
Manajemen diartikan sebagai proses pelaksanaan suatu tujuan tertentu yang diselenggarakan dan diarvasi.
4. Mary Parker Follet
Manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
5. Thomas H. Nelson
Manajemen perusahaan adalah ilmu dan seni memadukan ide-ide, fasilitas, proses, bahan dan orang-orang untuk menghasilkan barang atau jasa yang bermanfaat dan menjualnya dengan menguntungkan.
6. G.R. Terri,
Manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaran-sasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
7. James A. F. Stoner
Manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
8. Oei Liang Lie
Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Prinsip manajemen adalah dasar-dasar atau pedoman kerja yang bersifat pokok yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manajer/pimpinan. Dalam prakteknya harus diusahakan agar prinsip-prinsip manajemen ini hendaknya tidak kaku, melainkan harus luwes, yaitu bisa saja diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Prinsip-prinsip manajemen terdiri atas :
1. Pembagian kerja yang berimbang
Dalam membagi-bagikan tugas dan jenisnya kepada semua kerabat kerja, seorang manajer hendaknya bersifat adil, yaitu harus bersikap sama baik dan memberikan beban kerja yang berimbang.
2. Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas Setiap kerabat kerja atau karyawan hendaknya diberi wewenang sepenuhnya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan mempertanggung jawabkannya kepada atasan secara langsung.
3. Disiplin
Disiplin adalah kesedian untuk melakukan usaha atau kegiatan nyata (bekerja sesuai dengan jenis pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya) berdasarkan rencana, peraturan dan waktu (waktu kerja) yang telah ditetapkan.
4. Kesatuan perintah
Setiap karyawan atau kerabat kerja hendaknya hanya menerima satu jenis perintah dari seorang atasan langsung (mandor/kepala seksi/kepala bagian), bukan dari beberapa orang yang sama-sama merasa menjadi atasan para karyawan/kerabat kerja tersebut.
5. Kesatuan arah
Kegiatan hendaknya mempunyai tujuan yang sama dan dipimpin oleh seorang atasan langsung serta didasarkan pada rencana kerja yang sama (satu tujuan, satu rencana, dan satu pimpinan).

Jika prinsip ini tidak dilaksanakan maka akan timbul perpecahan diantara para kerabat kerja/karyawan. Karena ada yang diberi tugas yang banyak dan ada pula yang sedikit, padahal mereka memiliki kemampuan yang sama (Dayat,n.d,pp.7-9).
manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui kerja orang lain. Dengan demikian berarti dalam manajemen terdapat minimal 4 (empat) ciri, yaitu:
1. Ada tujuan yang hendak dicapai
2. Ada pemimpin (atasan)
3. Ada yang dipimpin (bawahan)
4. Ada kerja sama.

Fungsi dan Tujuan Manajemen
Keberhasilan suatu kegiatan atau pekerjaan tergantung dari manajemennya. Pekerjaan itu akan berhasil apabila manajemennya baik dan teratur, dimana manajemen itu sendiri merupakan suatu perangkat dengan melakukan proses tertentu dalam fungsi yang terkait. Maksudnya adalah serangkaian tahap kegiatan mulai awal melakukan kegiatan atau pekerjaan sampai akhir tercapainya tujuan kegiatan atau pekerjaan.
Pembagian fungsi manajemen menurut beberapa ahli manajemen, di antaranya yaitu :
1. Menurut Dalton E.M.C. Farland (1990) dalam “Management Principles and Management”, fungsi manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
2. Menurut George R. Ferry (1990) dalam “Principles of Management”, proses manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pelaksanaan (Activating).
3. Menurut H. Koontz dan O’Donnel (1991) dalam “The Principles of Management”, proses dan fungsi manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pengarahan (Directing).

Fungsi - Fungsi manajemen :

l) Fungsi perencanaan
Pada hakekatrya perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan yang merupakan dasar bagi kegiatan-kegiatan/tindakan-tindakan ekonomis dan efektif pada waktu yang akan datang. Pross ini memerlukan pemikiran tentmg apa yang perlu dikerjakan, bagaimana dan di mana suatu kegiatan perlu dilakukan serta siapa yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya.
2) Fungsi pengorganisasian
Fungsi Pengorganisasian dapat didefinisikan sebagai proses menciptakan hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, personalia dan faktor fisik agar kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan disatukan dan diarahkan pada pencapaian tujuan bersama.
3)Fungsi pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang menstimulir tindakan-tindakan agar betul-betul dilaksanakan. Oleh karena tindakan-tindakan itu dilakukan oleh orang, maka pengarahan meliputi pemberian perintah-perintah dan motivasi pada personalia yang melaksanakan perintah-perintah tersebut.
4)Fungsi pengkoordinasi
Suatu usaha yang terkoordinir ialah di mana kegiatan karyawan itu harmonis. terarah dan diintergrasikan menuju tujuan-tujuan bersama. Koordinasi dengan demikian sangat diperlukan dalam organisasi agar diperoleh kesatuan bertindak dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.
5)Fungsi pengawasan
Fungsi pengawasan pada hakekatnya mengatur apakah kegiatan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan dalam rencana. Sehingga pengawasan membawa kita pada fungsi perencanaan. Makin jelas. lengkap serta terkoordinir rencana-rencana makin lengkap pula pengawasan.

1.    Arti Pengorganisasian
Untuk dapat lebih memahami arti dari pada organizing, maka ada baiknya difahami dan diselidiki arti yang terkandung di dalamnya.

To organize, dalam Webster’s New Collegiate Dictionary, berasal dari kata organen bahasa Greek yang berarti sebagian atau susunan dalam binatang atau tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan untuk melakukan beberapa tugas khusus, seperti hati, ginjal, dan sebagainya.

Sedangkan kata organize berarti menyusun atau mengatur bagian-bagian yang berhubung-hubungan satu sama lain, dimana tiap-tiap bagian mempunyai tugas khusus atau berhubungan dengan keseluruhan.

Melihat arti di atas, maka jelas bahwa pengorganisasian, tidak dapat diwujudkan tanpa ada hubungan dengan yang lain dan tanpa menetapkan tugas-tugas tertentu untuk masing-masing unit.

Paul Bertholeneus dalam buku An Outline of Public Administration, mengatakan :
“Organisasi adalah sususnan yang agak logis dari bagaian-bagian yang saling berhubungan untuk mewujudkan suatu keseluruhan yang bulat padu, sehingga kekuasaan dan pengawasan dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.
Louis Allen dalam buku Management and Organization, mengatakan :
“Kita dapat merumuskan organisasi sebagai proses penentuan dan pengelompokkan pekerjaan yang akan dilakukan, menetapkan dan melimpahkan tanggung jawab dan wewenang, serta mewujudkan hubungan tanggungjawab dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerjasama secara efektif dalam mencapai tujuan”.

G. R. Terry dalam buku Principles of Management mengemukakan pendapatnya tentang organisasi sebagai berikut :
Pengorganisasian adalah penentuan, pengelompokan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor physik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukan hubungan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan.

Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell dalam buku ”Principles of Management”, menulis pendapatnya sebagai berikut :
Fungsi pengorganisasian dari pada manager meliputi penentuan, penghitungan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan, pemgelompokan keiatan-kegiatan, penempatan kelompok kegiatan-kehiatan termasuk ke dalam suatu bagian yang dikepalai oleh seorang manager serta pelimpahan wewenang untuk melaksanakannya.

Melihat keempat perumusan di atas, maka untuk itu dapat dikemukakan aspek yang penting, yaitu :
  1. Adanya tujuan yang akan dicapai
  2. Adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan
  3. adanya wewenagn dan tanggung jawab
  4. Adanya hubungan (relationship) satu sama lain
  5. Adanya penetapan orang-orang yang akan melakukan pekerjaan/ tugas-tugas


Cara mengorganisir yang baik menurut G. R. Terry sebagai berikut :
  1. Mengetahui tujuan dari organosasi
  2. Bagilah pekerjaan yang akan dilakuka terhadap kegiatan-kegiatan bagian
  3. Kelompokanlahkegiatan-kegiatan itu ke dalam unit-unit praktis
  4. Untuk tiap-tiap pekerjaan atau kelompok pekerjaan yang akan dilakuka tentukanlah dengan jelas tugas yang harus dilaksanakan dan sediakanlah alat-alat physik yang dibutuhkan
  5. Tempatkanlah pegawai-pegawai yang cakap
  6. Limpahkanlah wewenang yang dibutuhkan terhadap pegawai yang telah ditetapkan

Sedangkan Harold Koontz dan Cyril O’Donnell dalam buku Principles of Management dalam persoalan pengorganisasian, mengemukakan beberapa pertanyaan yang harus dijawab, agar supaya terdapat suatu organisasi yang baik, yaitu :
  1. Mengapa harus diorganisasi ?
  2. Bagaimana mendelegasikan wewenang ?
  3. Bagaiman kegiatan-kegiatan itu harus dikeompokkan ?
  4. Wewenang macam apakah yang harus digunakan dalam seluruh susunan organisasi ?
  5. Berapa banyak wewenang yang harus disebar dalam susunan organisasi ?

Apabila pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan baik, maka organisasi yang diwujudkan akan menjadi baik.

2.    Prinsip-Prinsip Organisasi
Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell dalam buku Principles of Management, menuliskan prinsip-prinsip organisasi sebagai berikut :
  1. Prinsip kesatuan tujuan
  2. Prinsip hasil guan
  3. prinsip rentangan manajemen
  4. Prinsip hirearchie (kekuasaan yang jelas)
  5. Prinsip pertanggungan jawab
  6. Prinsip keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab
  7. Prinsip kesatuan perintah
  8. Prinsip tingkatan wewenang
  9. Prinsip pembagian kerja
  10. Prinsip penetapan kerja
  11. Prinsip daya suai
  12. Prinsip keseimbangan
  13. Prinsip kelangsungan
  14. Prinsip kenudahan kepemimpinan

Prinsip-prinsip organisasi menurut Prof. DR. Earl P. Strong, yaitu sebagai berikut :
  1. Prinsip tujuan-tujuan organisasi
  2. Prinsip kesatuan tujuan
  3. Prinsip pengutamaan tujuan organisasi
  4. Prinsip jenjang bertingkat
  5. Prinsip kesatuan pemerintah
  6. Prinsip saluran pengawasan yang tetap
  7. Prinsip tingkatan-tingkatan organisasi
  8. Prinsip-prinsip tugas
  9. Prinsip kesederhanaan
  10. Prinsip keseragaman tugas
  11. Prinsip rentangan pengelolaan
  12. Prinsip pelimpahan
  13. Prinsip ketetapan
  14. Prinsip keseimbangan antara wewenang, tanggung jawab
  15. Prinsip tanggung jawab yang pasti
  16. Prinsip penentuan pekerjaan dengan sempurna
  17. prinsip tanggung jawab akhir
  18. Prinsip tanggung jawab yang tepat
  19. Prinsip hubungan silang
  20. Prinsip kekecualian
  21. Prinsip hubungan-hubungan organisasi yang meningkat
  22. Prinsip penempatan pegawai
  23. Prinsip-prinsip kelompok organisasi informil
  24. Prinsip keseimbangan organisasi
  25. Prinsip kelangsungan
  26. Prinsip pengorganisasian yang dinamis

G. R. Terry dalam buku Principles of Management mengemukakan tentang azas-azas organizing, sebagai berikut :
1.      Tujuan
Pertama-tama yang harus diketahui daripada suatu kegiatan adalah tujuan. Mengingat dengan tujuan memberikan arah kepada kegiatan. Oleh karena itu, tujuan harus diketahui oleh semua pihak yang bertalian dengan organisasi itu, tidak hanya diketahui oleh satu orang.

2.      Pembagian kerja
Pembagian kerja maksudnya ialah, mengelompokam tugas-tugas atau kegiatan yang sama atau bertalian dengan itu ke dalam suatu unit kerja atau unit organisaasi.

3.      Penempatan tenaga kerja
Yaitu menempatkan pekerja pada tempat yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.

4.      Wewenang dan tanggung jawab
Setelah ditetapkan orang-orangnya maka perlu ditetapkan wewenang dan tanggung jawabnya, agar orang tersebut dapat bekerja dengan baik.

5.      Pelimpahan wewenang
Pelimpahan wewenang yang dilaksanakan harus disertai tanggung jawab. Antara tanggung jawab harus seimbang. Tidak boleh terjadi wewenang yang besar, tanggung jawab kecil, atau sebaliknya wewenang kecil tanggung jawab besar.

6.      Rentangan wewenang
Rentangan wewenang atau biasa disebut rentangan pengawasan yaitu sejauh manaseseorang dapat mengelola orang-orang lain. Ini semua tergantung kepada kemampuan pengawasan seseorang

7.      Koordinasi
Koordinasi merupakan tindak lanjutan daripada azas-azas organisasi lainnya seperti penetapan tujuan, pembagian pekerjaan, penentuan tenaga kerja, penetapan wewenang dan tanggung jawab, pelimpahan wewenang dan rentangan wewenang atau pengawasan.


Public Adminitration’12 - Padjajaran University